Ikan Sidat Ternyata Lebih Bergizi dari Salmon, Tapi Populasinya Terancam Punah
- Redaktur: Audri Rianto
- 13 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Berbicara mengenai ikan sidat, banyak orang yang tidak bisa membedakannya dengan belut. Bahkan, beberapa orang masih beranggapan bahwa sidat sama dengan belut. Padahal keduanya jelas berbeda dan letak perbedaannya bisa dilihat secara langsung, yaitu terletak pada siripnya.

Sumber: gbif.org
Ikan sidat punya sirip lengkap layaknya ikan pada umumnya, sementara belut tidak punya sirip sama sekali. Ikan sidat juga memiliki tubuh yang bersisik, berbeda dengan tubuh belut yang polos dan licin berlendir.
Dari nilai gizinya, ikan sidat jauh lebih unggul. Bahkan, menurun penelitian yang diterbitkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ikan sidat punya kandungan gizi yang lebih tinggi dibanding salmon.
Dengan keunggulan seperti itu, sayangnya ikan sidat tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal sebagai komoditas pemenuhan gizi masyarakat, karena populasi ikan sidat di alam liar saat ini sudah langka akibat eksploitasi berlebihan.
Nutrisi Ikan Sidat vs Salmon
Menurun peneliti BRIN, Gadis Sri Haryani ikan sidat mengandung asam lemak omega-3 berupa DHA dan EPA sama seperti salmon, namun jumlahnya sedikit lebih unggul dibanding salmon.
Bagi yang belum tahu, DHA yang terkandung dalam daging ikan sidat memiliki peran penting dalam perkembangan dan fungsi otak, sedangkan EPA berperan dalam menjaga kesehatan jantung serta bertindak sebagai anti radang dalam tubuh.
Ikan sidat juga mengandung beragam vitamin, seperti vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, dan fosfor, membuatnya menjadi ikan dengan sumber nutrisi terlengkap yang baik untuk dikonsumsi masyarakat.
Jika dibandingkan dengan salmon, kandungan vitamin A ikan sidat lebih tinggi jumlahnya. Namun, untuk beberapa vitamin B, seperti seperti B6, B5, dan B2, salmon masih lebih unggul.
Mengapa Populasi Sidat Tertekan?
Walaupun kandungan nutrisi ikan sidat sangat tinggi, sayangnya ikan ini tidak bisa dikonsumsi dengan mudah. Penyebabnya ialah populasi ikan sidat di alam liar saat ini sudah sangat sedikit. Kelangkaan ikan sidat ini tentu akan meningkatkan harga jualnya, sehingga hanya orang tertentu yang bisa membeli dan mengonsumsinya.
Kelangkaan ikan sidat juga tidak jauh-jauh dari siklus hidupnya yang bersifat katadromus (menetas di laut, hidup di muara dan air tawar, lalu kembali ke laut untuk bereproduksi). Cara hidup seperti ini membuatnya sensitif terhadap perubahan lingkungan dan membuatnya rentan mati.
Permintaan pasar global yang tidak pernah surut, membuat ikan sidat terus diburu. Kegiatan ini membuat stok ikan sidat di alam terus turun, terutama terhadap ikan sidat dewasa.
Akibatnya, ikan sidat tidak sempat melakukan reproduksi, membuatnya gagal berkembang biak sehingga tidak ada kesempatan untuk memperbarui populasinya.
Upaya Pemerintah dan Tantangan Kebijakan
Untuk mengatasi masalah ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menerbitkan kebijakan untuk mengatur kuota penangkapan dan menetapkan ukuran minimal ekspor sidat sebesar 150 gram per ekor, dengan tujuan menjaga ekosistem dan keberlanjutan populasi. Namun, implementasinya masih menghadapi berbagai kendala di lapangan.
Beberapa kendala utama meliputi keterbatasan kapasitas budi daya domestik, ketergantungan pada pakan impor yang mahal, serta lemahnya sistem pengawasan di lapangan. Hal ini membuat upaya konservasi dan pengelolaan perikanan sidat belum berjalan efektif secara optimal.
Baca Juga




Komentar