Mengenal Ihan Batak, Ikan Endemik Danau Toba yang Terancam Punah
- Redaktur: Audri Rianto
- 1 hari yang lalu
- 2 menit membaca
Keanekaragaman hayati Indonesia saat ini mulai terancam, karena ada beberapa spesies endemik yang mulai terancam punah. Ihan batak menjadi salah satu spesies endemik yang jumlahnya sudah semakin sedikit bahkan terancam punah.

Sumber: tagar.id
Ihan batak merupakan salah satu ikan endemik yang ada di Danau Toba. Ikan ini punya nilai budaya yang tinggi bagi masyarakat batak, bahkan ikan ini dijuluki sebagai ‘ikan raja’, karena dahulu ikan ini merupakan hidangan wajib bagi keluarga raja dan bangsawan batak.
Sayangnya, populasinya kini semakin menurun dan sudah berada di ambang kepunahan. Kondisi ini tentu menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keberlanjutan ekosistem Danau Toba serta warisan budaya lokal.
Seluk Beluk Ihan Batak
Ikan dengan nama ilmiah Neolissochilus thienemanni ini termasuk dalam keluarga Cyprinidae, sama seperti ikan koi. Habitat asli ikan ini adalah perairan tawar yang jernih, berarus sedang dan kaya oksigen seperti Danau Toba.
Dari fisiknya, ikan ini punya tubuh yang memanjang dengan sisik berwarna perak hingga keemasan. Dagingnya memiliki tekstur yang padat dengan rasa yang gurih.
Ihan Batak termasuk ikan nokturnal, artinya mereka hanya aktif mencari makan di malam hari dan akan berdiam diri di balik bebatuan ketika siang hari. Untuk pakan alaminya, ikan ini biasanya makan siput, cacing, dan azolla (tumbuhan paku yang mengapung di air).
Bentuk tubuh antara ikan jantan dan betina juga berbeda. Ikan betina memiliki tubuh yang lebih kembung dibandingkan ikan jantan. Warna tubuh ikan jantan juga cenderung lebih gelap dibandingkan dengan ikan betina.
Ihan Batak dalam Budaya Batak
Bagi masyarakat Batak Toba, ikan ini tidak hanya sekedar sumber pangan di sana, tapi juga punya makna simbolis dalam kehidupan mereka. Ikan ini sering dikaitkan dengan status sosial dan dianggap sebagai ikan bernilai tinggi secara adat maupun ekonomi.
Dalam tradisi Batak, ikan ini hanya dihidangkan di momen-momen penting yang berhubungan dengan adat. Masyarakat Batak Toba juga percaya bahwa ikan ini punya khasiat yang luar biasa untuk kesehatan, terutama ketika dimasak secara tradisional dengan bumbu khas batak.
Secara historis dan filosofis, Ihan Batak sudah dianggap sebagai simbol kemakmuran dan kehormatan. Ketika populasinya sudah semakin menurun bahkan mendekati punah, banyak tradisi yang akhirnya mulai ditinggalkan.
Penyebab Kelangkaan Ihan Batak
Dilansir dari batakkeren.com, setidaknya ada tiga faktor utama yang membuat ikan ini semakin langka dan terancam punah.
Penangkapan Berlebihan
Ikan ini memang bernilai tinggi secara ekonomi, bisa mencapai Rp 1 juta per kilogramnya. Inilah yang kemudian memicu perburuan secara masif.
Kerusakan Habitat
Habitat Danau Toba saat ini sudah mengalami penurunan yang signifikan akibat dari pencemaran di berbagai titik, membuat ikan ini tidak bisa hidup dengan nyaman dan aman.
Semakin Banyak Keramba Jaring Apung
Inovasi keramba jaring apung memang bisa meningkatkan pendapatan warga sekitar. Namun, keberadaannya yang semakin banyak ternyata menimbulkan gangguan terhadap habitat asli Ihan Batak.
Upaya Pelestarian
Ihan Batak sudah menjadi warisan budaya dan identitas bagi masyarakat Batak Toba, maka sudah sepatutnya dilestarikan. Cara paling realistis untuk meningkatkan kembali populasinya ialah dengan mengendalikan perburuannya, memberinya kesempatan berkembang biak agar tidak benar-benar punah.
Baca Juga
