top of page

Quorum Sensing: Cara Bakteri Berkomunikasi dan Menyerang Udang

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 1 jam yang lalu
  • 2 menit membaca

Patogen dalam budidaya udang bisa datang dari virus, bakteri dan parasit. Infeksi yang paling sering terjadi dalam budidaya udang disebabkan oleh bakteri, terutama bakteri Vibrio.

 

Serangan Vibrio terkadang bisa terjadi tanpa diduga-duga. Bisa saja awalnya populasi Vibrio dalam tambak terdeteksi rendah, namun tiba-tiba dapat menyebabkan kematian massal.


 

Kemampuan menginfeksi dalam waktu singkat ini ternyata bukan hanya terletak dari kecepatan mereka bereproduksi, tapi juga ada dukungan dari mekanisme yang dikenal dengan Quorum Sensing.

 

Apa Itu Quorum Sensing?

Quorum sensing bisa dikatakan sebagai cara mereka berkomunikasi. Dari mekanisme ini mereka bisa tahu berapa banyak jumlah mereka di suatu lingkungan, dalam hal ini adalah perairan tambak.

 

Cara mereka berbicara satu sama lain ialah dengan menyemprotkan zat kimia khusus yang disebut dengan autoinduser. Saat populasi mereka masih sedikit, autoinduser biasanya akan hilang atau hanyut terbawa arus.

 

Tapi, ketika populasinya sudah terlalu banyak dan mendominasi perairan, maka zat tersebut akan memenuhi perairan dan membuat mereka sadar bahwa populasi mereka sudah cukup untuk membuat wabah. Pada saat itu, mulailah mereka menyerang udang secara bersamaan.

 

Tahapan Serangan Bakteri pada Udang Vaname

  • Tahap pertama, ketika jumlah bakteri dalam tubuh udang masih sedikit, biasanya mereka masih pada tahap menempel di organ pencernaan udang sambil mengeluarkan sinyal kimia untuk berkomunikasi satu sama lain. Pada tahap ini, udang masih tampak sehat, tidak ada tanda-tanda terinfeksi.

     

  • Tahap kedua, ketika jumlah bakteri semakin bertambah dan mencapai batas tertentu, sinyal kimia yang dikeluarkan akhirnya saling terhubung.


    Bakteri mulai menyadari bahwa jumlah mereka sudah cukup siap untuk melakukan serangan. Dari sini, daya tahan tubuh udang mulai goyah dan membuat udang mulai menunjukkan gejala lemas dan tidak nafsu makan.


  • Tahap ketiga, setelah menyadari imunitas udang semakin melemah, maka bakteri secara kompak mengeluarkan racun yang bisa merusak jaringan tubuh udang.


    Mereka juga akan membentuk lapisan pelindung (biofilm) supaya makin sulit dibasmi. Pada kasus AHPND, kerusakan yang terjadi ada di organ pencernaan yang terlihat mengecil dan memucat, paling parah membuat udang mati mendadak dalam jumlah yang banyak.

 

Strategi Pengendalian

Untuk mengendalikan quorum sensing, petambak hanya bisa melakukan tindakan pencegahan yang terukur demi memutus sinyal komunikasi bakteri sebelum terjadinya wabah.

 

  • Cara pertama ialah mengaplikasikan probiotik pemutus sinyal seperti Bacillus spp. yang mampu menghasilkan enzim lactonase dan acylase. Kedua enzim ini dapat mendegradasi molekul autoinduser.


  • Kedua, petambak bisa menggunakan senyawa aktif dari tumbuhan seperti cengkeh dan bawang putih. Keduanya dapat digunakan untuk memblokir reseptor sinyal pada sel bakteri, sehingga mereka tidak bisa berkomunikasi satu sama lain.


  • Ketiga, mengurangi penumpukan bahan organik di dasar tambak dengan melakukan siphon rutin. Pengendalian kadar bahan organik di dasar tambak membuat nutrisi yang ada di sana menjadi lebih terkendali, membuat bakteri tidak bisa berkembang lebih jauh.



Baca Juga

Komentar


bottom of page