top of page

Padat Tebar Tinggi jadi Sarana Penularan AHPND Dalam Budidaya Udang

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 2 jam yang lalu
  • 2 menit membaca

Permintaan udang di pasar domestik dan internasional selalu tinggi, untuk tetap bisa memenuhi permintaan tersebut, industri udang sekarang banyak yang mengadopsi sistem budidaya intensif dan super intensif.

 

Kedua sistem budidaya tersebut menerapkan padat tebar yang tinggi dengan potensi hasil panen yang melimpah. Sayangnya, penerapan padat tebar tinggi jika tidak dibarengi dengan manajemen lingkungan yang baik bisa menyebabkan meningkatnya penularan penyakit.


 

Penyakit yang paling sering mewabah saat tambak mengadopsi padat tebar tinggi adalah Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND). Penyakit ini dikenal mematikan dan gampang menyebar, biasanya akan menyerang udang pada fase awal budidaya, yaitu 30 hari setelah tebar.

 

Berikut adalah penjelasan mengapa padat tebar tinggi menjadi katalis utama merebaknya AHPND di tambak:

 

1. Tingginya Kanibalisme dan Transmisi Horizontal 

Padat tebar tinggi membuat risiko kontak fisik antar udang semakin tinggi, biasanya kondisi ini akan memicu sifat kanibalisme. Ketika AHPND menyerang salah satu udang, bakteri Vibrio parahaemolyticus akan melepaskan racun PirA dan PirB dan membuat udang tersebut mati.

 

Sayangnya, sifat kanibalisme yang muncul karena padat tebar tinggi membuat udang yang masih hidup gampang sekali menemukan bangkai dari udang yang terinfeksi tadi dan memakannya.

 

Dari sini, AHPND mulai menular ke udang yang sehat. Jika kejadian ini terus berulang, tentu laju penyebaran AHPND akan semakin cepat dan akan semakin banyak udang yang mati karenanya.

 

2. Beban Bahan Organik dan Penurunan Kualitas Air 

Semakin banyak udang yang dibudidayakan, maka semakin banyak pula volume pakan harian yang dibutuhkan. Ini berarti sisa pakan yang tidak dimakan akan semakin tinggi, feses yang dihasilkan juga lebih banyak. Akibatnya, akumulasi bahan organik di dasar tambak semakin cepat terjadi.

 

Limbah yang jumlahnya terlalu banyak akan memicu lonjakan amonia dan nitrit dalam tambak. Selain menjadi beracun, tambak juga akan mengalami lonjakan bakteri Vibrio parahaemolyticus penyebab AHPND.

 

3. Fenomena Quorum Sensing Bakteri Vibrio

Dasar tambak yang penuh dengan bahan organik dan limbah nutrisi tersebut memicu peningkatan bakteri vibrio. Selanjutnya, bakteri-bakteri ini akan melakukan mekanisme biologis yang disebut dengan quorum sensing.

 

Mekanisme ini memungkinkan antar sel bakteri melakukan komunikasi untuk secara serentak melepaskan toksin perusak hepatopankreas udang. Padat tebar yang tinggi membuat siklus ini menjadi lebih cepat terjadi karena ketersediaan inang yang melimpah.

 

4. Stres Kronis dan Penurunan Imunitas  

Populasi udang yang terlalu banyak di tambak membuat kompetisi antar udang semakin masif. Semuanya akan saling berebut ruang gerak, pakan bahkan oksigen. Kondisi ini membuat udang rawan stres dan bisa memperburuk sistem imunnya.

 

Pertahanan alami yang menurun menjadikan udang sebagai sasaran empuk bagi patogen yang jumlahnya sudah sangat mendominasi di perairan tambak.



Baca Juga

Komentar


bottom of page