top of page

Produksi Garam Nasional 2026 Stagnan, KKP Pacu Sertifikasi Petambak

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 1 jam yang lalu
  • 2 menit membaca

Indonesia kaya akan sumber daya laut, hingga saat ini produk kelautannya banyak diekspor ke luar negeri. Selama ini, produk kelautan yang paling dikenal adalah udang dan ikan. Padahal produksi garam Indonesia tiap tahunnya juga tidak kalah besarnya dibandingkan dengan dua komoditi unggulan tersebut.


 

Namun, untuk tahun ini Kementerian Kelautan dan Perikanan memprediksi bahwa produksi garam nasional tidak akan mengalami kenaikan alias stagnan. KKP sendiri memproyeksikan produksi garam nasional hanya akan berada di kisaran 1 juta ton, masih sama jumlahnya seperti produksi tahun lalu.

 

Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor pergaraman masih menghadapi tantangan struktural, walaupun sampai saat ini pemerintah masih mendorong berbagai upaya untuk perbaikan.

 

Produksi Garam Terkendala Cuaca dan Metode Tradisional

Faktor utama mengapa produksi garam mengalami stagnasi di tahun ini adalah ketergantungan terhadap kondisi cuaca. Industri ini dianggap masih terlalu bergantung pada panas matahari untuk menguapkan air laut. Padahal cara ini dianggap kurang efektif untuk produksi besar, karena akhir-akhir ini cuaca seringkali tidak menentu, membuat masa panen garam semakin pendek.

 

Tidak hanya itu, sebagian besar petambak garam di Indonesia juga masih mengandalkan metode tradisional yang dipadukan dengan teknologi sederhana. Hal ini tidak hanya mempengaruhi volume produksi, tapi juga akan berpengaruh terhadap kualitas garam yang dihasilkan.

 

Banyak garam yang kualitasnya belum memenuhi standar nasional, akibatnya garam-garam yang dihasilkan tidak dapat diserap secara maksimal oleh pasar domestik.

 

KKP Dorong Sertifikasi Petambak Garam

Berkaca dari masalah tersebut, KKP kemudian mamacu program sertifikasi petambak garam, gunanya untuk memastikan bahwa proses produksi garam rakyat harus sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI), mulai dari kebersihannya, kadar natrium klorida, yodium, sampai pada manajemen produksinya.

 

Melalui program ini, petambak akan mendapatkan pendampingan, pelatihan teknis, serta bimbingan produksi agar kualitas garam meningkat dan lebih seragam. Dengan adanya sertifikasi, diharapkan garam rakyat bisa bersaing di sektor industri yang selama ini masih bergantung pada impor.

 

Kesenjangan Produksi dan Kebutuhan Nasional

Jika dilihat dari kebutuhan garam nasional, Indonesia membutuhkan garam setidaknya 4,5 hingga 5 juta ton per tahun untuk beberapa sektor, seperti makanan, farmasi, dan kimia. Sayangnya, produksi garam dalam negeri maksimal hanya 1 juta ton, artinya Indonesia masih mengalami defisit garam yang besar.

 

Dengan keterbatasan itu, dengan terpaksa Indonesia harus bergantung pada kebijakan impor, terutama untuk memenuhi kebutuhan industri dengan standar kualitas tinggi. Untuk itu, pemerintah akan mencoba melakukan peningkatan produksi dan kualitas garam rakyat melalui program sertifikasi. Jika berhasil, maka Indonesia akan bisa mengurangi ketergantungan impor secara perlahan dan bertahap.

 

Harapan ke Depan untuk Sektor Pergaraman

KKP optimistis bahwa melalui sertifikasi petambak, sektor pergaraman nasional bisa tumbuh secara berkelanjutan. Walaupun untuk tahun ini produksi masih stagnan, namun harapan untuk tahun-tahun berikutnya tidak hanya produksinya yang meningkat, tapi juga kualitas dan nilai tambahnya juga turut meningkat, sehingga daya saing garam lokal juga akan semakin luas.



Baca Juga

Komentar


bottom of page