Mengapa Konsumsi Ikan di Indonesia Masih Rendah? Ini Penyebab Utamanya
- Redaktur: Audri Rianto
- 5 hari yang lalu
- 2 menit membaca
Indonesia termasuk negara maritim yang punya laut luas dengan kekayaan melimpah. Bahkan, Indonesia termasuk negara produsen ikan terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar 25% dari total permintaan ikan global.

Sumber: celebrithink.com
Sayangnya, dengan kekayaan alam seperti itu dan total produksi perikanan sebesar itu, Indonesia juga dikenal dengan negara dengan tingkat konsumsi ikan yang cukup rendah.
Ketimpangan Konsumsi Ikan Nasional
Pasokan ikan yang melimpah ternyata tidak sebanding dengan tingkat konsumsi ikan nasional. Pada tahun 2024 saja, Angka Konsumsi Ikan (AKI) nasional hanya mencapai 58,76 kg/kapita/tahun. Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia atau Jepang, angka ini tentu sangat jauh tertinggal.
Tingkat konsumsi ikan ini akan semakin jelas ketimpangannya jika dibandingkan antarwilayah. Pulau Jawa dan DIY punya angka konsumsi ikan rata-rata yang lebih rendah, sementara di Indonesia Timur dan kawasan pesisir punya tingkat konsumsi ikan yang lebih tinggi, bisa mencapai 77 hingga 82 kg/kapita/tahun.
3 Penyebab Utama Rendahnya Konsumsi Ikan di Indonesia
Fakta semiris itu membuat Guru Besar Departemen Perikanan UGM, Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc. angkat bicara. Setidaknya ada tiga faktor utama yang bisa menyebabkan hal tersebut, terutama di Pulau Jawa.
1. Kebiasaan Makan Sejak Kecil
Masyarakat yang ada di Pulau Jawa sejak kecil punya kebiasaan makan sumber protein dari ayam, tahu, dan tempe. Kebiasaan konsumsi ini dilakukan setiap hari, karena mayoritas masyarakat di Jawa sering menjadikan tahu dan tempe sebagai lauk harian mereka.
Hal ini tentu berbeda dengan masyarakat yang ada di Indonesia Timur dan wilayah pesisir yang notabene sudah terbiasa menjadi ikan sebagai makanan harian sejak kecil.
2. Kurangnya Pengetahuan Nutrisi & Olahan Siap Santap
Kebanyakan masyarakat Indonesia tidak menyadari nilai gizi dari ikan. Padahal, ikan punya asam amino yang lengkap serta asam lemak tak jenuh yang baik untuk kesehatan jantung, pembuluh darah dan perkembangan otak anak tanpa memicu kolesterol.
Apalagi produk olahan ikan siap santap tidak banyak di pasaran, jadi untuk sebagian orang yang malas mengolah ikan segar sendiri harus mengalihkan konsumsi sumber proteinnya ke produk yang lebih mudah diolah.
3. Masalah Logistik dan Rantai Dingin (Cold Chain)
Selama ini, memang sumber ikan terbesar di Indonesia berasal dari daerah Indonesia Timur. Jadi, untuk sampai ke pulau Jawa membutuhkan waktu, biaya dan fasilitas khusus agar ikan tetap dalam keadaan segar.
Artinya, sistem rantai dingin (cold chain) memgang peranan penting dalam menjaga kualitas daging ikan. Hal ini yang kemudian menjadikan ikan punya harga jual yang sedikit lebih mahal dibandingkan dengan harga sumber protein lainnya.
Perbedaan harga ini sangat berpengaruh terhadap keputusan konsumen. Mereka akan cenderung memilih bahan pangan yang lebih murah harganya.
Baca Juga




Komentar