top of page

Kapan Waktu yang Tepat Melakukan Uji PCR pada Udang? Ini Jawabannya

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 25 Jun
  • 2 menit membaca

Membudidayakan udang vaname memang penuh tantangan, terlebih terhadap risiko terinfeksi penyakit. Ada jenis penyakit udang mematikan yang bisa memusnahkan seluruh populasi udang di kolam tambak.

 

Penyakit seperti itu tentu harus dicegah dengan cepat supaya petambak tidak merugi. Metode pencegahan penyakit bisa dilakukan dengan banyak cara, namun yang paling akurat adalah metode Polymerase Chain Reaction (PCR).


 

Teknologi PCR memungkin petambak untuk mendeteksi adanya infeksi sedini mungkin. Namun, kapan waktu yang tepat bagi petambak untuk memeriksakan udangnya?

 

1. Fase Sebelum Penebaran (Seleksi Benur)

Pencegahan penyakit udang menggunakan PCR bisa dimulai sejak awal siklus budidaya, tepatnya sebelum benur ditebar. Tujuan utama dalam menguji benur dengan PCR ialah untuk memastikan benur yang dibeli benar-benar bebas dari patogen berbahaya.

 

Langkah ini baik dilakukan untuk mencegah kontaminasi seluruh area tambak, sehingga wabah penyakit bisa diantisipasi.

 

2. Fase Pembesaran (Monitoring Rutin Berkala)

Patogen penyakit, utama virus punya masa inkubasi yang membuat udang terlihat sehat tanpa gejala selama periode waktu tertentu. Ini yang berbahaya, karena penyakit tidak terlihat kasat mata namun potensi menularnya tinggi.

 

Untuk mencegah hal ini terjadi, petambak wajib melakukan PCR rutin selama fase pembesaran. Pengujian bisa dilakukan setidaknya 3 minggu sampai satu bulan sekali.

 

3. Saat Terjadi Gejala Klinis

Paling terakhir dan sebaiknya dihindari petambak adalah melakukan uji PCR ketika udang sudah menunjukkan gejala infeksi. Pada kondisi ini sebenarnya sudah cukup terlambat melakukan PCR, karena udang sudah pasti positif terinfeksi penyakit.

 

Uji PCR pada kondisi tersebut hanya akan memberikan data mengenai seberapa buruk infeksi yang terjadi. Data tersebut bisa dijadikan acuan untuk melihat apakah proses budidaya masih bisa diteruskan atau dihentikan dengan cara panen dini untuk menghindari kerugian.

 

Gejala klinis yang bisa dijadikan acuan untuk melakukan PCR adalah nafsu makan udang yang tiba-tiba menurun, terjadi perubahan pada fisik udang seperti ada bintik putih, cangkang keropos atau tubuh udang memerah, cara berenangnya yang terlihat lemas dan terlihat ada beberapa udang yang mulai mati tiba-tiba.

 

Kesimpulan

Meskipun membutuhkan biaya, namun bisa dipastikan bahwa uji PCR bukanlah pengeluaran yang sia-sia. Uji PCR termasuk salah satu metode perlindungan bagi tambak Anda dari kerugian. Lakukan uji PCR pada waktu terbaik seperti yang sudah dijelaskan di atas, sehingga penyebaran penyakit bisa dicegah dengan cepat.



Baca Juga

Komentar


bottom of page