top of page

Dampak Upwelling terhadap Budidaya Keramba Jaring Apung

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 1 hari yang lalu
  • 2 menit membaca

Zaman sekarang, kebutuhan konsumsi ikan semakin naik dari waktu ke waktu. Sayangnya, kenaikan permintaan ini juga dibarengi dengan semakin sempitnya lahan untuk budidaya. Untuk mengatasi problematika ini, muncullah sistem budidaya perikanan berbasis Keramba Jaring Apung (KJA).

 

Sistem budidaya dibentuk dari kombinasi rangka, pelampung, jaring, dan sistem pengikat. Rangka dibuat sebagai penopang utama dari jaring, sedangkan pelampung akan membantu keramba tetap mengapung di air.


 

Banyak daerah pesisir menerapkan sistem budidaya ini, karena tidak membutuhkan lahan luas, hanya mengandalkan air laut terbuka.

 

Memang sistem budidaya ini menawarkan solusi bagi pembudidaya yang tidak punya lahan, namun tetap saja ada tantangannya. Beberapa kasus menyebutkan bahwa upwelling yang terjadi di pesisir membuat ikan-ikan di KJA mati massal.

 

Peningkatan Nutrisi dan Produktivitas

Upwelling punya peluang untuk membuat air laut jadi lebih subur, karena air dasar laut yang naik ke permukaan itu adalah air laut yang kaya nutrisi seperti nitrat dan fosfat. Nutrisi ini adalah sumber makanan untuk fitoplankton.

 

Ini sebenarnya bagus untuk ikan selama dikelola dengan baik, karena fitoplankton sendiri adalah sumber pakan alami.

 

Perubahan Kualitas Air yang Ekstrem

Sayangnya, di balik peningkatan nutrien dan populasi fitoplankton tersebut ada ancaman yang tersembunyi. Ancaman yang paling sering terjadi pada KJA yang mengalami upwelling adalah kualitas air yang berubah secara ekstrem.

 

Beberapa perubahan ekstrem yang berujung pada peningkatan stres ikan dalam KJA adalah:


Hipoksia (Penurunan Oksigen Terlarut)

Massa air dari dalam laut biasanya punya kadar oksigen yang rendah. Begitu upwelling terjadi, maka oksigen terlarut di KJA juga akan mengalami penurunan drastis. Sayangnya, ikan-ikan yang ada di KJA ini tidak bisa berpindah tempat, mencari oksigen di titik lain, akhirnya ikan-ikan tersebut mengalami stres berat yang berujung pada kematian massal.

 

Paparan Gas Beracun 

Selain miskin oksigen, air dari dalam laut juga seringkali mengandung gas beracun seperti hidrogen sulfida. Gas ini terbentuk dari penguraian bahan organik secara anaerob di dasar laut. Begitu naik ke permukaan, gas ini akan menyebar ke segala penjuru dalam hitungan jam dan langsung meracuni ikan.

 

Fluktuasi Suhu dan pH 

Air dalam laut yang keluar ke permukaan juga akan membuat suhu dan pH sekitar mengalami penurunan ekstrem. Hal ini akan mengganggu sistem imun ikan, membuat mereka stres sekaligus rentan terhadap serangan penyakit sehingga jadi gampang mati.

 

Strategi Mitigasi bagi Pembudidaya

Meskipun upwelling punya peluang untuk menyuburkan perairan, tapi fenomena ini juga punya sifat merusak yang harus dicegah, khususnya bagi pembudidaya ikan dengan sistem Keramba Jaring Apung. Beberapa cara yang bisa dilakukan pembudidaya adalah:

 

Pemantauan Kualitas Air 

Sebaiknya lakukan pemantauan kualitas air secara rutin, agar pembudidaya tahu kapan naik dan turunnya parameter inti, seperti kadar oksigen, pH dan suhu. Pemantauan bisa dilakukan lebih sering saat masuk musim kemerau yang rentan memicu upwelling.

 

Manajemen Pakan 

Jika ada tanda-tanda upwelling mulai terjadi, maka pakan sebaiknya dikurangi untuk mengurangi beban metabolisme pada ikan sekaligus menjaga kualitas air tetap stabil.

 

Aerasi Tambahan 

Sebaiknya, KJA dilangkapi dengan aerasi tambahan seperti kincir atau pompa air untuk menjaga suplai oksigen tetap tersedia, terutama saat upwelling terjadi.



Baca Juga

Komentar


bottom of page