top of page

Risiko Fermentasi Pakan Komersial yang Perlu Diwaspadai Petambak

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 16 jam yang lalu
  • 2 menit membaca

Pada beberapa artikel terakhir, memfermentasi pakan udang disebutkan dapat memberikan banyak manfaat positif, terutama dalam meningkatakan penyerapan nutrisi bagi udang karena pakan jadi lebih mudah dicerna.

 

Namun, dalam beberapa kondisi, memfermentasi pakan juga memberikan risiko kerusakan pada pakan itu sendiri. Apalagi proses fermentasi yang dilakukan tidak memperhatikan dosis, bahan, kebersihan dan waktu fermentasi.


 

Untuk itu, petambak harus paham bahwa memfermentasikan pakan bukan hanya sekadar mencampur pakan dengan probiotik lalu menyimpannya di tempat kedap udara.


Ada hal-hal yang harus diperhatikan untuk meminimalkan risiko terburuk. Beberapa risiko yang bisa terjadi adalah:

 

1. Risiko Penurunan Kualitas Nutrisi

Risiko pertama dari memfermentasikan pakan komersial adalah perubahan kandungan nutrisinya yang berujung pada menurunnya nilai energi dari pakan. Pasalnya, mikroorganisme dari probiotik akan mengonsumsi sebagian senyawa yang ada dalam pakan selama proses fermentasi.

 

Jika fermentasi dilakukan tidak dengan perhitungan yang tepat terutama dilakukan dalam jangka waktu yang terlalu lama, bisa saja komposisi nutrisi dalam pakan akan berkurang drastis karena lebih banyak oleh diserap oleh mikroorganisme pengurai.

 

2. Kontaminasi Mikroorganisme

Proses fermentasi pakan membutuhkan kondisi lingkungan yang mendukung, termasuk kebersihan tempat.

 

Apalagi fermentasi ini sama saja dengan proses menumbuhkan mikroorganisme pengurai. Jika tidak dilakukan di tempat yang benar-benar bersih, risiko tumbuhnya mikroorganisme patogen pada pakan bisa meningkat.

 

3. Pakan Lebih Cepat Rusak

Memfermentasi pakan sama saja dengan mengubah teksturnya. Jika prosedurnya dilakukan sembarangan, pakan malah jadi gampang rusak. Aktivitas mikroorganisme dan kadar air yang tinggi bisa membuat karakteristik pakan berubah, bisa menjadi sangat lembek dan gampang hancur.

 

4. Mengganggu Kualitas Air Tambak

Saat tekstur pakan sudah berubah total menjadi sangat lembek, sebaiknya tidak diberikan kepada udang. Pakan seperti ini justru bisa meningkatkan beban bahan organik dalam tambak, karena setelah masuk ke dalam air, pakan jadi mudah larut.

 

Dalam kondisi ini, ada dua kerugian yang akan dialami petambak. Pertama, udang tidak bisa mengonsumsi pakan dengan optimal, kedua air akan mengalami penurunan kualitas lebih cepat karena tumpukan bahan organik dari pakan yang larut.

 

5. Fermentasi Tidak Selalu Dibutuhkan

Sebenarnya, fermentasi pakan tidak selalu dibutuhkan, terutama pada pakan komersial yang sudah diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan udang.

 

Fermentasi sebaiknya dilakukan pada pakan olahan yang terbuat dari bahan baku organik dengan bentuk dan tekstur yang tidak memungkinkan dikonsumsi udang secara langsung.

 

Fermentasi tanpa tujuan yang jelas justru dapat mengubah karakteristik pakan. Petambak sebaiknya mempertimbangkan kondisi udang, kualitas pakan, metode fermentasi, serta tujuan penggunaannya sebelum melakukan perlakuan tambahan.

 

Kesimpulan

Memfermentasikan pakan komersial tentu memiliki risiko, terutama jika dilakukan secara sembarangan. Fermentasi sebaiknya dilakukan secara terukur dan higienis serta dibarengi dengan memperhatikan kondisi udang dan kebutuhannya.

 

Fermentasi sangat direkomendasikan untuk dilakukan pada pakan organik yang memanfaatkan bahan baku alami. Dengan fermentasi yang tepat, bahan baku tersebut bisa diubah karakter dan senyawa nutrisinya menjadi lebih sederhana, sehingga lebih mudah dicerna oleh udang.



Baca Juga

Komentar


bottom of page