top of page

Memahami Fluktuasi Oksigen Tambak Udang di Siang dan Malam Hari

Redaktur: Audri Rianto
7 menit yang lalu
2 menit membaca

Dari dulu sampai sekarang, faktor kualitas air sangat menentukan kesuksesan dalam membudidayakan udang. Salah satu parameter yang cukup kritis dan perlu dijaga kestabilannya adalah oksigen terlarut (Dissolved Oxygen atau DO).


 

Untuk pertumbuhan udang yang ideal, DO tambak harus senantiasa di angka minimal minimal 4 mg/L (ppm). Meskipun terdengar mudah untuk selalu menyediakan DO 4 mg/L dalam tambak, namun pada praktiknya ternyata cukup sulit.

 

Sifat DO pada tambak sangatlah dinamis, terus mengalami perubahan selama 24 jam. Perubahan tersebut ternyata ada pengaruhnya terhadap siklus matahari. Jadi, kadar oksigen tambak di siang hari akan berbeda dengan yang ada di malam hari.

 

Puncak Produksi Oksigen di Siang Hari

Secara umum, tambak udang akan mengalami kelimpahan oksigen di siang hari. Hal ini didorong kuat oleh keberadaan fitoplankton dalam air. Fitoplankton sendiri sejatinya adalah mikro alga yang punya klorofil, artinya ia akan melakukan fotosintesis dengan bantuan sinar matahari.

 

Fotosintesis secara masif dengan memanfaatkan karbon dioksida ternyata menghasilkan oksigen di dalam kolom air. Dengan diiringi oleh kinerja kincir air, kadar DO air menjadi semakin meningkat dan puncanya terjadi di siang hingga sore hari.

 

Apalagi tambak mengandung fitoplankton yang padat, kadar oksigennya bisa mengalami supersaturation (kejenuhan ekstrem) hingga menembus angka 8-12 mg/L. Sebagai petambak Anda tidak boleh terlena, walaupun terlihat aman, nyatanya kondisi tersebut bisa berbalik arah begitu matahari terbenam.

 

Fase Kritis dan Penurunan DO di Malam Hari

Meski di siang hari, kadar oksigen cenderung melimpah namun pada malam hari semuanya bisa berubah 180 derajat. Begitu matahari terbenam, fotosintesis akan berhenti total sehingga tidak ada lagi produksi oksigen.

 

Secara bersamaan, seluruh organisme yang ada di ekosistem tambak akan terus menyerap oksigen untuk bernapas. Produksi oksigen hanya mengandalkan kincir air, kompetisi dalam hal mengonsumsi oksigen menjadi semakin tinggi.

 

Udang butuh oksigen untuk terus melakukan metabolisme demi pertumbuhannya, fitoplankton dan zooplankton beralih fungsi dari penghasil oksigen menjadi penyerap oksigen dalam proses respirasi, sementara itu bakteri pengurai butuh oksigen yang banyak untuk terus melakukan dekomposisi bahan organik dan limbah yang ada di dasar tambak.

 

Tingkat konsumsi oksigen yang tinggi ini membuat kadar DO rentan mengalami penurunan secara masif sepanjang malam. Titik kritisnya akan terjadi saat menjelang subuh, antara pukul 03.00 hingga 06.00 pagi.

 

Apabila DO menurun lebih rendah dari 4 mg/L, udang mulai mengalami stres, terlihat lemas dan banyak yang muncul ke permukaan. Jika dibiarkan terlalu lama, udang bisa mati massal.

 

Strategi Manajemen Oksigen untuk Petambak

Penurunan kadar oksigen di malam hari adalah hal mutlak dalam budidaya udang, namun jangan sampai di bawah 4 mg/L. Cara mencegahnya ialah dengan mengoptimalkan kinerja kincir di malam hari.

 

Nyalakan kincir air yang sudah ada, ditambah dengan aerator ekstra supaya suplai oksigen bisa terus optimal sepanjang malam. Pengecekan DO juga harus dilakukan, terutama di jam rawan (pukul 03.00 hingga 06.00 pagi). Jika ada indikasi kadar oksigen masih di bawah normal, maka aerator harus ditambah.

 

Untuk mengurangi konsumsi oksigen di malam hari, petambak harus menghindari akumulasi bahan organik secara berlebihan. Caranya ialah dengan memberikan pakan sesuai porsi dan kebutuhan udang, supaya tidak terjadi overfeeding yang menyisakan banyak pakan di dasar tambak.



Baca Juga

Komentar


bottom of page