top of page

Memahami Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Konsumsi Ikan di Indonesia

  • Redaktur: Audri Rianto
  • 2 hari yang lalu
  • 2 menit membaca

Sebagai negara kepulauan, tentu bisa dibilang Indonesia punya sumber daya kelautan yang sangat melimpah. Sayangnya, dengan sumber daya tersebut tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia masih di bawah standar.

 

Secara data, konsumsi ikan nasional memang mulai mengalami peningkatan dari tahun 2020 sampai 2024, namun masih di bawah target pemerintah. Apalagi ketika dibedah secara spesifik antar wilayah, maka akan didapati wilayah-wilayah tertentu yang konsumsi ikan per tahunnya masih di angka 36,48 kilogram per kapita per tahun.


Sumber: idntimes.com

 

Mengonsumsi ikan secara rutin termasuk bagian dari program pencegahan stunting nasional, jadi untuk memahami dinamika tentang pemenuhan gizi berbasis hasil kelautan dan perikanan darat sangatlah krusial.

 

Berikut ini beberapa faktor yang diduga kuat menjadi penyebab tingkat konsumsi ikan masyarakat di beberapa wilayah Indonesia masih sangat rendah.

 

1. Tingkat Pendapatan dan Daya Beli Masyarakat

Faktor utama tentu saja faktor ekonomi, karena yang paling dekat dengan pola konsumsi pangan masyarakat. Tingkat pendapatan sangat berbanding lurus dengan daya beli masyarakat.

 

Masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke atas biasanya akan memilih ikan segar dengan kandungan gizi dan kualitas yang baik, seperti salmon, tuna bahkan kakap.

 

Sementara untuk masyakat ekonomi menengah ke bawah, kebanyakan masih sensitif dengan fluktuasi harga ikan. Mereka cenderung membeli ikan murah dengan jenis yang itu-itu saja seperti lele, bandeng dan kembung.

 

Faktor ‘keseringan’ ini yang banyak membuat masyarakat menengah ke bawah gampang bosan, sehingga mereka kerap kali mencari alternatif sumber protein lainnya dengan harga yang lebih terjangkau, seperti tahu dan tempe.

 

2. Harga Ikan dan Keberadaan Protein Subtitusi

Ada kalanya harga ikan bisa melambung tinggi, terutama saat cuaca sedang ekstrem. Dengan keadaan seperti itu, biasanya masyarakat akan beralih ke sumber protein alternatif, seperti telur, ayam, tempe dan tahu karena harganya lebih murah. Mereka akan makan ikan lagi ketika harganya mulai turun dan stabil.

 

3. Aksesibilitas dan Logistik Perikanan

Tingkat konsumsi ikan masyarakat pesisir tentu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman. Hal ini bisa terjadi karena sarana transportasi untuk mengirimkan ikan ke daerah-daerah pedalaman masih sangat minim.

 

Logistik yang tidak merata ini kemudian membuat harga ikan segar di daerah pelosok sangat mahal yang kemudian membuat masyarakat banyak yang memilih sumber protein alternatif yang lebih murah.

 

4. Literasi Gizi dan Kesadaran Kesehatan

Kesadaran masyarakat mengenai gizi seimbang sangat mempengaruhi pilihan makanan. Banyak masyarakat yang belum teredukasi dengan baik terkait pentingnya makan ikan, akibatnya banyak masyarakat yang abai.

 

Program yang diusung pemerintah seperti Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) sudah lama digencarkan dan hasilnya perlahan mulai mengubah pandangan masyarakat tentang pentingnya asam lemak Omega-3, protein, dan mineral untuk tumbuh kembang anak.

 

5. Kebiasaan Kuliner Lokal

Budaya setiap wilayah tentu berbeda-beda, nah dari situ muncul pola konsumsi yang khas antar daerah. Seperi di daerah pesisir dan luar Jawa, biasanya punya tradisi kuliner berbasis ikan yang kuat. sedangkan daerah Jawa terutama bagian tengah, mereka lebih terbiasa dengan mengonsumsi makanan dari olahan protein nabati. Seperti tempe dan tahu.



Baca Juga

Komentar


bottom of page