Cara Bakteri Mengatur Serangan Massal terhadap Udang
- Redaktur: Audri Rianto
- 3 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Dalam budidaya udang, infeksi penyakit bisa muncul kapan saja, termasuk di awal fase budidaya. Makanya, banyak kasus kematian dini yang disebabkan oleh infeksi patogen. Hal semacam ini yang paling dihindari oleh petambak, karena kerugian yang disebabkan tidak main-main.

Sumber: gbif.org
Kematian dini pada udang seringnya disebabkan oleh infeksi Vibrio parahaemolyticus. Bakteri tersebut bisa menghasilkan racun yang membuat organ pencernaan udang rusak dan mati mendadak.
Bakteri tersebut sebenarnya tidak membahayakan jika jumlahnya masih sedikit. Namun, ketika populasinya semakin tinggi di perairan tambak, maka ia bisa berkomunikasi satu sama lainnya untuk melakukan serangan massal terhadap udang.
Berikut ini penjelasan mengenai cara bakteri mengatur serangan massal pada udang di dalam tambak.
3 Tahapan Kritis Serangan Bakteri pada Udang
Bakteri bisa merencanakan serangan massal pada udang dengan mekanisme komunikasi yang disebut dengan quorum sensing. Mekanisme komunikasi ini bisa berhasil jika populasi bakteri di dalam perairan sudah memadai, artinya infeksi tidak terjadi secara instan.
Ada jeda waktu yang dibutuhkan bakteri untuk meningkatkan populasi mereka hingga dirasa cukup untuk menyerang udang. Berikut ini beberapa tahap yang dilakukan oleh bakteri
1. Fase Awal (Jumlah Populasi Sedikit)
Pada tahap awal, ketika jumlah bakteri patogen masih sedikit di dalam tambak, mereka biasanya sudah mulai menempel di banyak tempat termasuk organ pencernaan udang. Mereka sudah mencoba berkomunikasi dengan mengeluarkan sinyal kimia yang disebut autoinducer.
Sayangnya, karena jumlahnya masih sedikit maka sinyal tersebut tidak bisa sepenuhnya ditangkap oleh sel bakteri lainnya sehingga gen racun belum aktif. Di sini udang masih tampak sehat dan nafsu makannya masih normal.
2. Fase Kumpul (Kepadatan Populasi Meningkat)
Seiring berjalannya waktu, jumlah sel bakteri bisa semakin meningkat terutama saat tambak mengalami penurunan kualitas lingkungan seperti banyaknya akumulasi limbah organik.
Semakin banyak jumlah bakteri, maka sinyal kimia yang dikeluarkan semakin tinggi konsentrasinya. Dari sini, sinyal mulai ditangkap oleh bakteri lainnya, terutama ketika populasi mereka sudah sampai pada ambang batas.
Bakteri mulai menyadari bahwa jumlah mereka sudah sangat kuat dan cukup untuk menginfeksi udang. Imunitas udang juga mulai goyah pada kondisi ini, apalagi diperburuk dengan stres lingkungan.
3. Fase Serangan Massal (Puncak Infeksi)
Memanfaatkan kondisi imun udang yang semakin lemah, bakteri mulai serentak mengaktifkan gen virulensi untuk memproduksi racun yang merusak organ pencernaan. Tidak hanya itu, bakteri juga akan membentuk lapisan pelindung yang disebut biofilm, tujuannya agar mereka menjadi lebih sulit untuk dibasmi.
Dalam waktu singkat, organ pencernaan udang akan rusak parah hingga memicu kematian massal dalam tambak.
Kesimpulan
Quorum Sensing menunjukkan betapa terorganisirnya bakteri patogen dalam menyerang udang. Kunci utama agar udang tidak mengalami serangan seperti ini ialah melakukan manajemen lingkungan dengan baik.
Selalu bersihkan area dasar tambak, buang limbah organik secara teratur. Selanjutnya, aplikasikan probiotik dengan teratur karena probiotik bisa membantu memutus rantai komunikasi bakteri. Jangan tunggu hingga fase serangan massal terjadi, mulailah langkah pencegahan sejak dini untuk memastikan hasil panen yang melimpah.
Baca Juga




Komentar