5 Fakta Penting tentang Upwelling yang Harus Diketahui Pelaku Perikanan
- Redaktur: Audri Rianto
- 9 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Dunia perikanan dan kelautan sudah pasti tidak asing dengan fenomena upwelling. Fenomena ini memungkinkan air laut menjadi lebih subur dari biasanya. Peningkatan nutrisi pada air laut membuat fitoplankton tumbuh subur, membuat ikan-ikan berdatangan untuk makan.

Sumber: tempo.co
Upwelling menciptakan lingkungan dengan rantai makanan yang kompleks sehingga menjadi berkah bagi pelaku perikanan.
Memahami upwelling sudah menjadi kewajiban bagi pelaku usaha penangkapan ikan. Setidaknya ada 5 fakta menarik dari upwelling yang harus dipahami.
1. Upwelling adalah Mesin Kesuburan Laut
Upwelling bisa terjadi karena adanya angin yang berhembus membawa air permukaan menjauhi pantai. Kekosongan yang dihasilkan dari hembusan angin tadi akhirnya diisi oleh air lapisan dalam yang kaya nutrisi sepeti nitrat, fosfat dan silikat.
Nutrisi tersebut adalah sumber makanan bagi fitoplankton, sehingga populasi fitoplankton akan melimpah di sana. Kelimpahan fitoplankton ini menjadi sinyal bagi ikan-ikan kecil untuk berkumpul yang kemudian akan memancing predator lebih besar untuk datang.
Rentetan peristiwa itulah yang membuat upwelling dijuluki sebagai mesin kesuburan bagi laut, karena telah menciptakan zona penangkapan ikan yang strategis.
2. Kualitas Air Bisa Berubah Drastis
Selain kadar nutrisi air yang semakin meningkat, upwelling juga bisa membuat kualitas air berubah drastis. Air lapisan dalam yang naik ke permukaan sangat miskin oksigen, sehingga berisiko membuat air mengalami penurunan oksigen secara drastis.
Tidak hanya itu, kadar pH air dalam juga biasanya rendah dan cenderung bersifat asam karena konsentrasi karbon dioksidanya yang tinggi. Perubahan kondisi perairan secara mendadak ini juga sering membuat ikan stres dan pingsan. Lebih parahnya, bisa membuat ikan mati massal.
3. Ancaman Senyap Hidrogen Sulfida
Air dalam yang naik ke permukaan juga mengandung Hidrogen Sulfida hasil dari dekomposisi bahan organik secara anaerob. Upwelling membuat gas ini semakin menyebar dan berpotensi meracuni ikan.
Dampak dari keracunan H2S biasanya tidak terlihat di laut lepas, karena ikan bisa bergerak bebas menghindari racun.
Tapi, bagi ikan yang dibudidayakan di Keramba Jaring Apung, tingkat keracunannya akan semakin tinggi, karena ikan terjebak di dalam keramba, sehingga risiko kematiannya menjadi lebih besar.
4. Upwelling Tidak Terjadi Sepanjang Waktu
Fenomena ini tidak terjadi terus-terusan, karena kejadiannya dipengaruhi oleh pola angin musiman. Biasanya, Indonesia akan mengalami upwelling saat kemarau atau musim angin tenggara di bulan Juni sampai Agustus.
5. Bisa Dideteksi dengan Data Satelit dan Observasi Mandiri
Selama ini, nelayan cenderung menebak-nebak lokasi terjadinya upwelling. Di era sekarang, upwelling bisa dideteksi dengan mengandalkan data satelit klorofil-a dan suhu permukaan laut.
Namun, tetap harus dipadukan dengan observasi mandiri di lapangan. Carilah air yang mengalami perubahan warna seperti menjadi kecokelatan atau kehijauan pekat yang menandakan banyak fitoplankton tumbuh di sana.
Apalagi dari kejauhan terlihat banyak ikan yang berkumpul di permukaan dan terlihat megap-megap seperti sedang makan. Air dengan ciri seperti itu sudah pasti adalah zona upwelling.
Baca Juga




Komentar