Perikanan Indonesia Semakin Dilirik Pasar Jepang
- Redaktur: Audri Rianto
- 30 Agu 2025
- 2 menit membaca
Kedudukan Indonesia dalam mengekspor produk perikanannya ke penjuru dunia memang sudah tidak diragukan lagi. Capaian ini tentu tidak jauh dari potensi laut Indonesia yang sangat kaya. Banyak negara yang telah menjadi tujuan ekspor Indonesia, namun pasar Jepang dinilai paling sulit untuk ditebus. Pasalnya, Jepang sangat ketat dan selektif dalam menerima produk pangan dari luar.

Sumber: wakashio.co.id
Namun, kali ini Indonesia sepertinya sudah mulai menaklukkan pasar Jepang melalui acara The 27th Japan International Seafood & Technology Expo (JISTE) 2025. Dari acara tersebut, Indonesia dinyatakan telah membukukan potensi transaksi senilai USD 128,51 juta atau setara Rp2,06 triliun. Dari nilai tersebut, 80 persen produk yang mendominasi berasal dari udang, rumput laut, serta tuna dan olahan tuna.
Fajarini Puntodewi, selaku Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan RI, menyatakan rasa bangga dan gembiranya atas capaian Indonesia, karena transaksi ini diyakini akan meningkatkan kepercayaan pasar internasional terhadap produk-produk Indonesia.
Dilihat dari respon pembeli yang ada di Jepang, Fajarini sangat yakin jika posisi Indonesia sebagai pemasok perikanan global akan semakin kuat.
Pada gelaran tersebut, Indonesia membawa 15 perwakilan pelaku usaha perikanan yang menempati tempat seluas 72 meter persegi. Produk-produk yang mereka tampilkan kebanyakan merupakan produk unggulan ekspor, seperti udang, gurita, cumi-cumi, kepiting, tuna segar, sotong, dan ada beberapa produk olahan rumput laut.
Ternyata, produk-produk tersebut banyak menarik minat para pengunjung yang ada di sana, baik pengunjung yang berasal dari Jepang maupun dari negara lain. Apalagi pada sesi penjajakan kerja sama bisnis, para pengunjung terlihat sangat antusias.
Fajarini menekankan, udang, rumput laut, tuna, dan tuna menjadi produk paling diminati di sana jug dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat di Jepang yang sangat gemar makan sushi dan tempura, jadi produk tersebut akan dijadikan topping pada makanan tersebut. Sementara rumput laut sangat diminati oleh industri Jepang sebagai bahan baku produk pangan dan nonpangan bernilai tinggi.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag, Miftah Farid turut mengomentari pencapaian Indonesia di JISTE 2025. Menurutnya, hal tersebut bisa menjadi langkah konkret dalam mempertahankan serta memperkuat kerja sama antara Indonesia dan Jepang.
Miftah juga menambahkan, selain produk-produk unggulan yang telah disebutkan, bulu babi juga sudah mulai mendapatkan perhatian khusus di pasar Jepang. Pasalnya, Jepang saat ini mengalami penurunan produksi bulu babi akibat praktik penangkapan ikan yang terlalu masif (overfishing) dan juga adanya perubahan ekosistem laut. Dengan begitu, ini bisa menjadi peluang bagi pemasok bulu babi Indonesia.
Fauziah Hanum, Direktur Utama PT Bahari Agro Indonesia sekaligus salah satu peserta, mengungkapkan rasa puasnya terhadap pencapaian yang diraih delegasi Indonesia. Ia menilai bahwa pameran tersebut merupakan peluang yang penting bagi perusahaannya untuk memperluas jaringan dan menjalin kerja sama dengan pembeli baru.




Komentar