Perdagangan Ikan Global Terbukti Sebarkan Bahan Kimia Berbahaya
- Redaktur: Audri Rianto
- 25 Des 2025
- 2 menit membaca
Fakta mengejutkan di industri perikanan baru saja terungkap, bisa dikatakan ini merupakan sisi gelap dari perdagangan ikan global. Perdagangan internasional khususnya di industri perikanan ternyata tidak hanya mendistribusikan makanan ke berbagai negara, tapi juga secara bersamaan menyebarkan racun ke seluruh dunia.

Sumber: kompas.com
Dilansir dari kompas.com, sebuah studi yang dipublikasikan baru-baru ini mengungkap bahwa perdagangan seafood global secara tidak sengaja telah menjadi kendaraan bagi penyebaran per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS).
PFAS merupakan sekelompok bahan kimia buatan manusia yang sudah lama digunakan dalam berbagai produk konsumen dan industri. Senyawa ini dikenal sebagai bahan kimia abadi, karena memang senyawa ini tidak mudah hancur pada kondisi apapun. Saat ini, senyawa ini telah ditemukan pada ikan-ikan yang dikonsumsi jauh dari tempat asalnya.
Apa Itu PFAS dan Mengapa Berbahaya?
PFAS terdiri dari 4.700 senyawa kimia sintetis yang diciptakan untuk berbagai kebutuhan, seperti pada peralatan masak antilengket, pembungkus mananan hingga busa untuk memadamkan api. Senyawa ini dikenal tahan panas, air dan minyak, sehingga cukup berguna dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, di balik semua kegunaan itu, ternyata senyawa ini juga sangat membahayakan.
Mengapa disebut "bahan kimia abadi"? Karena ikatan kimia PFAS sangat kuat, jadi hampir mustahil bisa terurai, baik itu di lingkungan maupun di dalam tubuh manusia. Dr. Julian Campo, peneliti dari Food Safety and Environment Research Group di Spanyol, turut menegaskan bahwa PFAS merupakan senyawa yang sangat beracun.
Ketika terpapar senyawa ini dalam jumlah besar atau dalam waktu yang lama, maka secara perlahan akan menimbulkan banyak masalah kesehatan, seperti kerusakan hati, penyakit tiroid, obesitas, gangguan kesuburan, hingga kanker.
Ironi Perdagangan Global
Perdagangan internasional memperburuk penyebaran PFAS, terutama di wilayah Eropa. Padahal, perairan Eropa diketahui mengandung polusi yang lebih sedikit, karena di Eropa sendiri memiliki regulasi lingkungan yang ketat.
Penumpukan PFAS di sana terjadi karena negara-negara Eropa sangat aktif mengimpor ikan yang berasal dari berbagai wilayah dengan cemaran PFAS yang tinggi. Ikan yang berasal dari Asiaan Oseania termasuk Arab Saudi, Thailand, dan pantai timur Australia menunjukkan paparan PFAS yang tinggi dibanding rata-rata global.
Bisa dikatakan bahwa perdagangan internasional memindahkan risiko dari negara produsen ke negara konsumen.
Tanggung Jawab Bersama
Dr. Pablo Gago, peneliti senior di Institute of Environmental Assessment and Water Research, mengatakan temuan ini memberikan gambaran bahwa paparan PFAS terhadap manusia terjadi dua kali, yaitu dari lingkungan dan juga dari makanan lewat perdagangan global.
Hal ini berarti paparan senyawa PFAS terhadap manusia kemungkinan nilainya lebih besar dari yang diperkirakan. Walaupun saat ini beberapa jenis PFAS mulai dihentikan produksinya, tapi residu dari senyawa terdahulu akan sulit hilang dan masih mengancam kesehatan manusia.
Temuan ini harusnya menjadi landasan bagi instansi yang mengontrol keamanan pangan untuk terus waspada, sehingga paparan yang lebih besar bisa dihindari.




Komentar