• Audri Rianto

Amonia, Nitrit dan Nitrat Berasal dari Sumber yang Sama

Pada budidaya udang, air memegang peranan penting dalam mendukung siklus hidup udang. Air yang terjaga tentu dapat memproduksi udang yang lebih sehat dibandingkan dengan air yang tidak dikontrol.

Dalam proses budidaya udang, petambak sudah tidak asing dengan senyawa amonia, nitrat dan nitrit. Ketiga senyawa tersebut sangat mudah muncul pada suatu perairan termasuk kolam tambak. Pada umumnya, ketiga senyawa tersebut tidaklah beracun namun pada tingkat tertentu, ketiganya dapat memperburuk kualitas hidup udang.


Sumber: pasardana.id


Pada dasarnya, amonia, nitrat dan nitrit berasal dari sumber yang sama, yakni nitrogen. Amonia pada perairan memiliki dua bentuk, yaitu amonia bebas (NH3) dan ion amonia (NH4+). Kedua bentuk amonia ini keberadaannya dipengaruhi oleh pH dan suhu, termasuk juga kadar toksisitasnya. Naiknya pH dan suhu akan menyebakan kenaikan amonia dan itu menjadi beracun bagi udang.

Sementara untuk pembentukan nitrit dan nitrat berasal dari siklus nitrogen yang sudah mengalami proses biologi. Proses biologi tersebut terbagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap fiksasi, nitrifikasi dan reduksi nitrat.

Tahap fiksasi merupakan proses konversi gas dinitrogen (N2) menjadi nitrogen yang dapat langsung dimanfaatkan oleh ekosistem akuatik, yaitu fitoplankton. Fitoplankton yang berperan dalam memfiksasi ini adalah yang berasal dari kelompok BGA seperti Anabaena sp dan Aphanizomenon sp.

Selanjutnya adalah tahap nitrifikasi, yaitu oksidasi amonia (NH4+) menjadi nitrat (NO3-). Proses oksidasi ini terjadi dengan bantuan bakteri Nitrosomonas dengan mengubah NH4+ menjadi nitrit (NO2-) terlebih dahulu, selanjutnya NO2- diubah sekali lagi menjadi nitrat (NO3-) oleh bakteri Nitrobacter sp. Kedua bakteri tersebut bekerja secara aerobic, artinya keduanya memerlukan oksigen dalam proses nitrifikasi tersebut.

Kemudian dilanjutkan ke tahap reduksi nitrat, yaitu perubahan nitrat (NO3-) menjadi gas N2 oleh bakteri secara anaerob. Proses reduksi nitrat ini paling banyak terjadi di dasar kolam, dengan demikian dapat disimpulkan kadar nitrat tertinggi seringnya terdapat pada kolam budidaya. Kecepatan reduksi nitrat ini dipengaruhi oleh ketersediaan nitrat itu sendiri, serta suhu dan pH. Proses reduksi akan berjalan dengan optimal pada suhu 25-35 derajat celsius dan pH 6-8.

185 tampilan

CONTACT US

061-4571224

061-4571571

061-4534443

Medan - Head office:

Jl. Sutomo no. 560, Medan 20231

Indonesia

  • Facebook Social Icon
  • Google+ Social Icon
  • YouTube Social  Icon