8 Ton Ikan di Danau Maninjau Mati Akibat Cuaca Ekstrem
- Redaktur: Audri Rianto
- 12 menit yang lalu
- 2 menit membaca
Pada 26 November 2025 lalu, telah terjadi fenomena yang tidak biasa, yaitu kemunculan Siklon Tropis SENYAR di Selat Malaka yang memicu cuaca ekstrem di wilayah Aceh, Sumatera Utara hingga Sumatera Barat.
Hujan deras yang diiringi dengan angin kencang selama beberapa hari terakhir ternyata memberikan dampak yang signifikan, terutama bagi masyarakat yang berada di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Sumber: antaranews.com
Banyak masyarakat sana membudidayakan ikan di keramba jaring apung yang dibangun di kawasan Danau Maninjau. Akibat dari cuaca ekstrem yang terjadi beberapa hari terakhir, ikan-ikan tersebut tercatat banyak yang mati dan diestimasikan mencapai 8 ton.
Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Agam, Sumatera Barat mengatakan bahwa ikan yang mati adalah ikan jenis nila. Kerugian akibat dari kematian 8 ton ikan nila tersebut jika dikalkulasikan mencapai Rp 200 juta.
Perhitungan tersebut adalah perhitungan sementara, karena saat ini petugas masih terus melakukan pengumpulan data. Artinya, jumlah ikan yang mati kemungkinan akan bertambah dan estimasi kerugian diprediksi akan semakin bertambah.
Petugas kemudian memberi himbauan kepada pembudidaya yang ikannya masih hidup dan siap panen untuk segera memanennya serta memindahkan ikan yang belum cukup umur ke kolam yang lebih tenang, karena cuaca sampai saat ini masih belum menentu. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
Curah hujan tinggi memang memiliki dampak yang besar terhadap lingkungan budidaya, dalam hal ini adalah keramba jaring apung yang ada di Danau Maninjau. Beberapa hal yang terjadi ketika curah hujan tinggi memasuki lingkungan budidaya.
Penurunan Suhu Air
Ikan budidaya seperti nila dapat hidup dengan baik pada suhu 25-30 derajat celcius, ketika hujan datang dengan intensitas tinggi dan dalam waktu yang lama akan secara signifikan menurunkan suhu air. Air yang terlalu dingin ini akan membuat ikan nila stres dan membuat kesehatannya tidak stabil.
Penurunan Oksigen Terlarut
Hujan deras dan angin kencang mengakibatkan pembalikan air dasar ke permukaan danau. Air dasar umumnya tidak memiliki cukup oksigen, karena air di lapisan bawah merupakan tempat penguraian bahan organik.
Pembalikan yang terjadi membuat air pada keramba tercampur, sehingga seluruh keramba mengalami penurunan oksigen dengan cepat.
Selain itu, hujan yang deras juga membuat populasi plankton drop. Plankton sendiri memiliki peran dalam suplai oksigen secara alami melalui proses fotosintesis. Ketika populasinya berkurang drastis, maka fotosintesis tidak dapat berjalan maksimal dan oksigen yang dihasilkan juga akan minim.
Kondisi ini juga diperparah dengan minimnya intensitas cahaya matahari akibat mendung berkepanjangan. Tanpa cahaya matahari yang memadai, maka fotosintesis tidak akan terjadi dan oksigen tidak akan terbentuk.




Komentar