5 Kesalahan Petambak yang Menyebabkan Amonia Meningkat
- Redaktur: Audri Rianto
- 5 hari yang lalu
- 2 menit membaca
Penurunan kualitas air dalam tambak sudah sepatutnya dihindari, karena bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan udang. Kemunculan gas dalam tambak adalah salah satu ciri paling umum yang menandakan penurunan kualitas air. Gas yang sering muncul adalah amonia dan ini sifatnya sangat beracun.

Perlu digarisbawahi oleh petambak adalah amonia bisa muncul di dalam tambak karena penumpukan limbah organik secara berlebihan. Limbah ini nantinya akan mengalami dekomposisi oleh bakteri secara anaerob yang kemudian menghasilkan amonia dalam jumlah yang tidak terkendali.
Penumpukan limbah organik yang terlalu banyak di dasar tambak sering kali disebabkan oleh petambak sendiri. Inilah beberapa kesalahan yang sering dilakukan petambak hingga membuat amonia melonjak drastis.
1. Pemberian Pakan Berlebihan
Kesalahan dalam memanajemen pemberian pakan adalah yang paling umum dilakukan petambak. Banyak petambak merasa jika pakan yang diberikan dalam jumlah banyak, maka udang akan cepat besar. Sayangnya, pemikiran tersebut merupakan pemikiran yang salah.
Pakan yang diberikan tetap harus disesuaikan dengan kondisi udang dan jumlah biomassa. Ketika pakan yang diberikan melebihi kebutuhan, maka pakan akan lebih banyak terbuang dan mengendap di dasar tambak dan akan membusuk.
Proses pembusukan secara anaerob ini akan menghasilkan nitrogen yang seiring berjalannya waktu berubah menjadi amonia. Jika kondisi ini terus berlangsung dalam waktu yang lama, maka amonia di dalam tambak akan terus meningkat dan meracuni udang.
2. Kepadatan Tebar Terlalu Tinggi
Menebar benur dengan jumlah yang melebihi kapasitas tambak juga sering dilakukan banyak petambak. Kebanyakan petambak yang melakukan itu ialah untuk meraup keuntungan yang lebih tinggi. Namun, kenyataannya padat tebar yang terlalu tinggi ini malah bisa menuntun petambak pada kerugian.
Semakin banyak udang di dalam tambak, semakin besar pula limbah metabolisme yang dihasilkan. Akibatnya, penumpukan limbah di dasar tambak juga tidak akan terelakkan. Jika sistem aerasi dan filtrasi tidak memadai, kualitas air akan cepat menurun dan menimbulkan amonia.
3. Kurangnya Pengelolaan Dasar Kolam
Dasar kolam tambak yang jarang dibersihkan menjadi sarang bagi limbah organik. Limbah ini nantinya yang akan menghasilkan amonia melalui penguraian anaerob. Pengelolaan sedimen secara berkala sangat penting untuk menjaga kualitas air tetap stabil.
4. Minimnya Aerasi dan Sirkulasi Air
Aerasi yang kurang optimal tidak hanya karena jumlah kincir yang digunakan kurang, tetapi posisi penempatan yang salah juga bisa menjadi penyebabnya. Ketika posisi kincir air tidak tepat, maka sebaran gelembung oksigen yang dihasilkan tidak menjangkau hamparan tambak secara keseluruhan. Akibatnya, akan timbul titik mati di beberapa lokasi dan titik mati ini rentan sekali mengalami penguraian anaerob serta menghasilkan amonia.
Untuk itu, sesuaikanlah jumlah kincir dengan luas kolam tambak serta posisikan kincir dengan tepat agar oksigen yang dihasilkan bisa tersebar merata ke seluruh areal kolam.
5. Mengabaikan Penggunaan Probiotik atau Bakteri Pengurai
Penggunaan probiotik terutama pada tambak intensif sangat diperlukan untuk mempercepat penguraian limbah nitrogen. Penggunaan probiotik secara teratur dapat menjaga keseimbangan mikroorganisme dalam tambak sehingga limbah organik tidak sempat mengendap lama di dasar tambak. Penguraian yang tepat waktu dapat menghindarkan tambak dari toksisitas amonia yang mematikan.
Baca Juga




Komentar