Mengubah Limbah Sawit Jadi Pupuk Organik

November 10, 2016

Kelapa sawit terus ditanam dan dipanen sepanjang tahun, dan sejak 30 tahun terakhir menjadi produk komersial yang paling banyak dibudidayakan di Asia Tenggara. Bahkan areal tanam kelapa sawit di Asia Tenggara jauh lebih luas dibandingkan Afrika. Kelapa sawit yang ditanam bisa menghasilkan satu ton minyak per hektar. Wajar bila kelapa sawit disebut sebagai tumbuhan raja minyak. Produksi minyak sawit dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia memiliki porsi penting dalam konsumsi dan perdagangan internasional.

 

Meski demikian, peningkatan produksi juga berarti bertambahnya jumlah limbah yang dihasilkan. Limbah kelapa sawit terdiri atas beberapa jenis yakni limbah cair, tandan kosong, sludge (lumpur), daun serta batang kelapa sawit, cangkang sawit dan ijuk. 

 

Jika dirinci, satu ton minyak kelapa sawit yang diekstrak akan menghasilkan 6 ton sampah daun sawit, 1 ton sampah batang sawit, 5 ton tandang buah kosong, 1 ton serat kulit, 0,5 ton cangkang inti sawit. Limbah cair dan padatan sekitar 3 ton. Sehingga pengelolaan limbah kelapa sawit  menjadi masalah utama di negara-negara penghasil utama. Selain keberadaannya yang menyebabkan hilangnya lahan hutan, di sisi lain limbah kelapa sawit berdampak langsung terhadap pencemaran lingkungan.

 

Pengangkutan tandan buah sawit.   

 

Oleh karena itu, untuk jangka panjang, sangat perlu dilakukan daur ulang limbah kelapa sawit. Satu di antaranya adalah mengolah limbah kelapa sawit menjadi pupuk organik. Selain mengurangi masalah lingkungan, keberadaan pupuk ini juga bermanfaat secara ekonomis. Sebagai catatan bukan limbah cair yang digunakan sebagai bahan baku pupuk. Melainkan campuran tandan buah kosong, minyak lumpur (sludge), daun kelapa sawit dan cangkang.

 

Semuanya diproses menjadi pupuk yang mengandung asam humat biologis bahkan bisa dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit itu sendiri. Pupuk organik tersebut dapat meningkatkan kesuburan tanah. Proses pengolahannya terdiri atas beberapa tahap yakni :

 

→ Penghancuran: Dalam proses ini, limbah kelapa sawit semi basah  

     dihancurkan

→ Kompos: Dalam pembuatan pupuk organik, proses kompos ini yan  

    terpenting. Padatan semi basah yang telah dihancurkan kemudian

    difermentasi. Temperatur yang disarankan adalah 60-75 derajat

    Celcius. Nilai pH harus dikontrol pada ksiaran 5,5-8,5. Kadar air yang

    diperkenankan adalah 35 persen pada hasil akhir fermentasi.

→ Granulasi: Dengan granulator, pupuk yang telah melewati proses

    fermentasi diubah menjadi butiran-butiran. (*)

 

 

Hubungi Sales Representative kami.

 

HP: 0823 6063 6356 / 0823 8382 6661

 

Medan: Jl. Sutomo No. 560, Medan, Sumatera Utara, 20231, Indonesia

Please reload

Featured Posts

Alat dan Bahan Untuk Proses Hatchery Udang Vaname

January 20, 2020

1/10
Please reload

Recent Posts
Please reload

CONTACT US

061-4571224

061-4571571

061-4534443

Medan - Head office:

Jl. Sutomo no. 560, Medan 20231

Indonesia

  • Facebook Social Icon
  • Google+ Social Icon
  • YouTube Social  Icon