Parameter Lingkungan Ini Harus Dipenuhi untuk Mengoptimalkan Pertumbuhan Udang Windu

Budidaya udang di Indonesia telah berkembang menjadi bio-food industry yang terbukti menghasilkan devisa, memberikan kesempatan kerja dan tentunya menjadi sumber protein hewani. Ditambah dengan dukungan pasar yang luas, jaminan kestabilan harga, dukungan teknologi dalam proses produksi, serta ketersediaan lahan potensial, komoditas udang bisa terus menjadi sumber pendapatan negara yang berkelanjutan.

 

Produksi tambak udang windu (tiger shrimp) di Indonesia, sejak beberapa tahun terakhir mayoritas ada di Sulawesi Selatan, Riau, Jawa Barat dan Sumatera Utara.  Produksi udang windu tak terlepas dari kawasan pesisir. Salah satu lokasi yang memiliki wilayah pesisir dan merupakan potensi budidaya tambak udang adalah Mangara Bombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

 

Di Indonesia, sejak beberapa tahun terakhir mayoritas budidaya atau tambak udang windu ada di Sulawesi Selatan, Riau, Jawa Barat dan Sumatera Utara. 

 

Yang tak bisa dinomor duakan dalam keberlanjutan budidaya udang adalah aspek dinamis dari kualitas lingkungan. Sebab ada interaksi antara masyarakat di wilayah pesisir selain aktivitas kolam budidaya itu sendiri. Seperti yang terjadi di kawasan Mangara Bombang, Takalar. Rumput laut dan udang windu telah menjadi budidaya utama yang dilakukan secara intensif. Namun, diharapkan para pembudidaya di Managara Bombang khususnya tak hanya fokus untuk meningkatkan produksi udang windu namun juga menerapkan manajemen lingkungan yang baik sehingga tidak mengancam keberlanjutan sumber daya lingkungan sekitar.

 

Dikutip dari The Fish Site, penelitian yang dilakukan di kawasan Mangara Bombang menghasilkan rekomendasi analisis kualitas lingkungan untuk pertumbuhan optimal udang windu, dengan parameter sebagai berikut:

 

  • Suhu air

Merupakan salah satu faktor penting penentuan keberhasilan kegiatan budidaya udang. Pengukuran suhu perairan di tambang udang tradisional menunjukkan perolehan angka 29,56 ±0,75 °C. Sementara itu, suhu perairan tambak yang ditemukan dari hasil pengukuran temperatur di perairan pesisir dan sungai adalah 28,56 ±2,72 °C dan 26,77 ±19,94 °C. Suhu yang diamati ini  masih cocok untuk budidaya udang. Suhu dengan kisaran 20-32 °C adalah  nilai suhu direkomendasikan untuk budidaya udang dan 29-30 °C adalah suhu optimum untuk pertumbuhan budidaya udang.

  • Salinitas

Hasil pengukuran salinitas menunjukkan bahwa kadar garam yang diperoleh di perairan pesisir masih dalam nilai-nilai yang direkomendasikan yakni 17,95 ± 3.79o / oo dan 30,90 ± 4.01o / oo. Seperti diketahui  nilai salinitas dari 5-35o / oo cocok untuk budidaya udang. Adapun kadar garam pada jangkauan 15-25o / oo adalah salinitas disarankan untuk pertumbuhan optimal udang.

 

  • pH

Pengukuran kadar pH di lokasi tambak udang windu menunjukkan selama 24 jam adalah 8,17 ± 0,38. pH. Kadar pH tertinggi yakni 8.17 terjadi pada pukul 12.00 WIB hingga pukul 13. 00 WIB. Adapun hasil pengukuran di sungai dan perairan pesisir adalah 7,77 ± 0,42 dan 8,06 ± 0,40, masing-masing. Seperti diketahui, pH yang cocok untuk budidaya udang yaitu 6,5-8,5 dengan pH optimum 8,0-8,5.

 

  • Oksigen terlarut

Pemeliharaan kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen) yang memadai dalam air sangat penting untuk kelangsungan hidup udang windu. Terpapar terlalu lama dengan  konsentrasi rendah oksigen dapat menghambat pertumbuhan udang windu. Konsentrasi DO dalam penelitian ini dianggap normal dan dapat diterima untuk tambak udang. Selama periode pengamatan, konsentrasi oksigen terlarut ditemukan di perairan adalah 6.65 ± 1.08 mg/l. Sementara itu, konsentrasi oksigen terlarut dalam tambak udang selama 24 jam dari pengamatan berkisar 5,89-6,02 mg/l dengan oksigen terlarut tertinggi (6,02 mg/l) pada pukul 12.00 WIB. Serta kadar DO terendah (5,89 mg/l) ketika pukul 20.00 WIB. Adapun oleransi oksigen terlarut untuk budidaya udang adalah ≥ 3 mg/l (3 -10 mg/l) dan kadar optimal oksigen terlarut berkisar 4-7 mg/l.

 

  • Zat Padat Tersuspensi/ Total Suspended Solid (TSS)

Dari hasil pengukuran, tampak  nilai TSS di tambak udang adalah 37,73 ± 12,44 mg/l sementara, nilai TSS di perairan pesisir dan sungai adalah 58,17 ± 22,18 mg/l dan 60,13 ± 15,45 mg/l. Kadar TSS ini masih dalam batas toleransi untuk budidaya tambak udang, yakni: 25-80 mg/l.

 

  • Biochemical Oxygen Demand  (BOD)

Pengukuran kadar BOD yang dilakukan di perairan pesisir dan sungai adalah 0.74 ± 0.27 mg/l. Nilai BOD ini masih cocok untuk budidaya udang, sesuai dengan yang direkomendasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (2004) yaitu <25 mg/l.

 

  • Ammonia (NH3-N)

Amonia (NH3-N) hasil pengamatan di perairan tambak udang adalah 0,02614 ± 0,3355 mg/l. Sementara itu, yang  diperoleh di perairan pesisir dan sungai adalah 0,2636 ± 0,3303 mg/l. Kadar amonia yang ditunjukkan ini masih berada dalam batas standar untuk budidaya udang berdasarkan parameter yang disebutkan Kementerian Lingkungan Hidup yaitu <1,0 mg/l.

 

  • Nitrit (NO2)

Nitrit (NO2) diamati di perairan tambak udang kawasan Mangara Bombang adalah 0,0555 ± 0,0956 mg/l sementara, nitrit (NO2-N) di perairan pesisir dan sungai adalah 0,2483 ± 0,5690 mg/l. Nilai-nilai ini masih dalam batas wajar untuk tambak udang berdasarkan nilai toleransi direkomendasikan untuk budidaya udang yaitu <0,25 mg/l.

 

  • Nitrat (NO3-N)

Nitrat (NO3-N) yang diukur  di perairan tambak udang adalah 0,0115 ± 0,0104 mg/l. Sementara itu, Nitrat (NO3-N) di perairan pesisir dan sungai adalah 0,0110 ± 0,0141 mg/l. Kadar Nitrat (NO3-N) juga menunjukkan bahwa Mangara Bombang cocok untuk budidaya udang.

 

  • Fosfat (PO43 - P)

Fosfat (PO4-P) yang berada di perairan tambak udang, perairan pesisir dan sungai masih dalam batas nilai yang direkomendasikan untuk kegiatan budidaya udang yaitu; 0,0201 ± 0,0051, 0,0583 ± 0,0648 dan 0,0051 ± 0,0037 mg/l. Seperti dilansir Kementerian Lingkungan Hidup, batas nilai Fosfat (PO4-P) konten yang cocok untuk kegiatan budidaya udang adalah 0,05-0,5 mg/l.

 

  • Kekeruhan

Nilai kekeruhan diamati di tambak udang pada perairan pesisir 9,69 ± 3,41 dan sungai adalah 14,44 ± 17,65 NTU. Nilai kekeruhan tersebut masih dalam batas toleransi untuk budidaya udang. Secara umum, kualitas air di daerah pesisir Mangara Bombang masih mendukung untuk kegiatan budidaya udang berdasarkan kriteria yang direkomendasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. (*)

 

 

Baca Juga:

1. Kincir Air Terbaik Untuk Tambak

2. Beberapa Jenis Aerator Untuk Tambak

3. Cara Mengukur Kadar Oksigen Dalam Air

4. 3 Alat dan Bahan yang Dapat Dijadikan Alas Tambak dan Kolam

 

 

 

 

 

Hubungi Customer Sales Representative kami di

Indah Sari Windu
Medan: Jl. Sutomo No. 560, Medan, Sumatera Utara, 20231, Indonesia

Surabaya: Pergudangan Tanrise Westgate Diamond, Blok B-16, Wedi, Gedangan, Sidoarjo 61254, Indonesia
Telp: 061 4571 224 - 0812 6065 5496
Up. Teguh Raharjo

 

 

Please reload

Featured Posts

Pakan Udang Bernutrisi dari Campuran Molase dan Tepung Ikan

January 8, 2019

1/10
Please reload

Recent Posts
Please reload

CONTACT US

061-4571224

061-4571571

061-4534443

Medan - Head office:

Jl. Sutomo no. 560, Medan 20231

Indonesia

  • Facebook Social Icon
  • Google+ Social Icon
  • YouTube Social  Icon